Pernah kuimpikan
Pernah kudambakan
Oh, indahnya cinta yang tercipta
Ingin kunyatakan
Tapi apa daya
Kau bukannya dia yang kuimpi
Berdua pun tak pernah indah
Yang ada hanya airmata
Terbuai diantara dusta
Dan cintaku
Sayang..
Usah lagi kau sebut-sebut namaku
Sayang..
Bawa saja cintamu pergi dengannya
Oh.. tak ingin aku sandiwara
Oh.. cintamu bukanlah untukku
Ingin ku menangis
Tapi kering sudah
Oh, anganku tak pernah tercipta
Berdua pun tak pernah indah
Yang ada hanya airmata
Terbuai diantara dusta
Dan cintaku
Sayang..
Usah lagi kau sebut-sebut namaku
Sayang..
Bawa saja cintamu pergi dengannya
Oh.. tak ingin aku sandiwara
Oh.. cintamu bukanlah untukku
Tuesday, April 3, 2012
Aku Ingin Cinta Yang Nyata
setiap kali ku memadangimu
seribu tanya dihatiku
seringkali sudah ku bertanya
tiada jawab di bibirmu
apa sayang
apa yang salah padaku
katakanlah jangan kau hanya membisu
setiap kali kita bertemu
tak pernah engkau menegurku
seandainya kau sayang padaku
siramlah bunga dihatiku
tapi sayang engkau pun hanya disitu
siapa salah aku ingin cinta nyata
bukan sekali ini engkau menyakiti hatiku
mana ku tahu, mana ku sadari
engkau sayang padaku
bukan sekali ini mataku berpesan padamu
aku tak tahu, aku apa maksudmu
diam-diam begitu
seadainya dapat kau dengarkan
hati bernyanyi menantimu
aku mau, aku pun sayang padamu
tapi sayang tak mungkin aku ingin cinta yang nyata
bukan sekali ini engkau menyakiti hatiku
mana ku tahu, mana ku sadari
engkau sayang padaku
bukan sekali ini mataku berpesan padamu
aku tak tahu, aku apa maksudmu
diam-diam begitu
seadainya kau sayang padaku siram bunga dihatiku
aku mau, aku pun sayang padamu
tapi sayang tak mungkin aku yang meminta
seribu tanya dihatiku
seringkali sudah ku bertanya
tiada jawab di bibirmu
apa sayang
apa yang salah padaku
katakanlah jangan kau hanya membisu
setiap kali kita bertemu
tak pernah engkau menegurku
seandainya kau sayang padaku
siramlah bunga dihatiku
tapi sayang engkau pun hanya disitu
siapa salah aku ingin cinta nyata
bukan sekali ini engkau menyakiti hatiku
mana ku tahu, mana ku sadari
engkau sayang padaku
bukan sekali ini mataku berpesan padamu
aku tak tahu, aku apa maksudmu
diam-diam begitu
seadainya dapat kau dengarkan
hati bernyanyi menantimu
aku mau, aku pun sayang padamu
tapi sayang tak mungkin aku ingin cinta yang nyata
bukan sekali ini engkau menyakiti hatiku
mana ku tahu, mana ku sadari
engkau sayang padaku
bukan sekali ini mataku berpesan padamu
aku tak tahu, aku apa maksudmu
diam-diam begitu
seadainya kau sayang padaku siram bunga dihatiku
aku mau, aku pun sayang padamu
tapi sayang tak mungkin aku yang meminta
Friday, March 30, 2012
Si Tua Sais Pedati
G Em G Em
Bergerak perlahan dengan pasti di jalan datar yang berlumpur
C G D G C D
Sesekali terdengar gletar cemeti diiringi teriakan lantang
D G D
Si tua sais pedati
G Em
Derak pedati sebentar berhenti
G Em
Tampak si tua sais pedati
C G D G
Mulai membuka bungkusan nasi,
Em D C D G
Yang dibekali sang istri
G Em G Em
Gerak pedati lalu jalan lagi, singgah di setiap desa
C G C G D G
Tanpa ragu-ragu tanpa malu-malu napas segar terhembus
D G C G D C D G
Dari sepasang lembu yang tak pernah merasakan sesak polusi
C D G C D G
Dia tak pernah memerlukan, dia tak pernah membutuhkan
D G D G
Solar dan ganti oli, bensin dan ganti busi
Em D G
Apalagi cas accu ..... wuih ... !!
C D G C D G
Dia tak pernah kebingungan, dia tak pernah ketakutan
Em D C D G
Apa kata orang tentang gawatnya krisis energi
G Em
Gerak pedati dan lenguh lembu
G Em
Seember rumput dan gletar cemeti
C G D G
Seakan suara azan yang di cassette kan
G D
Sementara itu
C D G
Sang bilal pulas mendekur
Bergerak perlahan dengan pasti di jalan datar yang berlumpur
C G D G C D
Sesekali terdengar gletar cemeti diiringi teriakan lantang
D G D
Si tua sais pedati
G Em
Derak pedati sebentar berhenti
G Em
Tampak si tua sais pedati
C G D G
Mulai membuka bungkusan nasi,
Em D C D G
Yang dibekali sang istri
G Em G Em
Gerak pedati lalu jalan lagi, singgah di setiap desa
C G C G D G
Tanpa ragu-ragu tanpa malu-malu napas segar terhembus
D G C G D C D G
Dari sepasang lembu yang tak pernah merasakan sesak polusi
C D G C D G
Dia tak pernah memerlukan, dia tak pernah membutuhkan
D G D G
Solar dan ganti oli, bensin dan ganti busi
Em D G
Apalagi cas accu ..... wuih ... !!
C D G C D G
Dia tak pernah kebingungan, dia tak pernah ketakutan
Em D C D G
Apa kata orang tentang gawatnya krisis energi
G Em
Gerak pedati dan lenguh lembu
G Em
Seember rumput dan gletar cemeti
C G D G
Seakan suara azan yang di cassette kan
G D
Sementara itu
C D G
Sang bilal pulas mendekur
Si Gembala Sapi
Saya ini si gembala sapi.. young lide.. young lie.. young liede…
Inilah kerjanya si gembala sapi.. apa yang kau pikirkan lagi…
Bila hari sudah petang sapi pulang ke kandang saya turut dari belakang…
Jika sudah tutup pintu kandang si gembala menyenangkan badan
Inilah kerjanya si gembala sapi.. apa yang kau pikirkan lagi…
Yepie.. pie.. yepie.. ah.. ah..
Yepie.. yepie.. pie.. pie…
Yoboleio.. ih.. Yo.. lei.. ih..ooo…
Yoboleio.. yoboleio.. lei.. boleio…
Inilah kerjanya si gembala sapi.. apa yang kau pikirkan lagi…
Yoboleio.. yoboleio.. lei.. ih..ooo…
Inilah kerjanya si gembala sapi.. apa yang kau pikirkan lagi…
Bila hari sudah petang sapi pulang ke kandang saya turut dari belakang…
Jika sudah tutup pintu kandang si gembala menyenangkan badan
Inilah kerjanya si gembala sapi.. apa yang kau pikirkan lagi…
Yepie.. pie.. yepie.. ah.. ah..
Yepie.. yepie.. pie.. pie…
Yoboleio.. ih.. Yo.. lei.. ih..ooo…
Yoboleio.. yoboleio.. lei.. boleio…
Inilah kerjanya si gembala sapi.. apa yang kau pikirkan lagi…
Yoboleio.. yoboleio.. lei.. ih..ooo…
Sesuatu Yang Tertunda
Disini aku sendiri
Menatap relung-relung hidup
Aku merasa hidupku tak seperti yang kuimpikan
Terhampar begitu banyak warna kelam sisi diriku
Seperti yang mereka tahu
Seperti yang mereka tahu
Aku merasa disudutkan kenyataan, kenyataan
Menuntut diriku dan tak sanggup ku melawan
Butakan mataku semua tentang keindahan
Menggugah takutku, menantang sendiriku
Temui cinta, lepaskan rasa
Disini aku sendiri masih seperti dulu
Yang takut
Aku merasa hidupku pun surut
Tuk tumpukan harap
Tergambar begitu rupa, samara seperti yang kurasakan
Kenyataan itu pahit
Kenyataan itu sangatlah pahit
Aku merasa disudutkan kenyataan
Menuntut diriku dan tak sanggup ku melawan
Butakan mataku semua tentang keindahan
Menggugah takutku, menantang sendiriku
Temui cinta lepaskan rasa
Menatap relung-relung hidup
Aku merasa hidupku tak seperti yang kuimpikan
Terhampar begitu banyak warna kelam sisi diriku
Seperti yang mereka tahu
Seperti yang mereka tahu
Aku merasa disudutkan kenyataan, kenyataan
Menuntut diriku dan tak sanggup ku melawan
Butakan mataku semua tentang keindahan
Menggugah takutku, menantang sendiriku
Temui cinta, lepaskan rasa
Disini aku sendiri masih seperti dulu
Yang takut
Aku merasa hidupku pun surut
Tuk tumpukan harap
Tergambar begitu rupa, samara seperti yang kurasakan
Kenyataan itu pahit
Kenyataan itu sangatlah pahit
Aku merasa disudutkan kenyataan
Menuntut diriku dan tak sanggup ku melawan
Butakan mataku semua tentang keindahan
Menggugah takutku, menantang sendiriku
Temui cinta lepaskan rasa
Wednesday, March 28, 2012
Serenade 2
Kudatang padamu
Ketika anyelir ditaman masih berkerudung embun
Diambang malamku
Selaksa kemelut bermain tanpa terali
Khayalku berarak
Kutawar buatmu mungkin kau minat menjamahnya
Dibawah letak hidungmu
Aku minta tempat sila
Dengan segudang kata cinta
Pabila suatu saat umurku dipacu waktu
Merdekalah dari kungkungan mimpi
Kicau apa gerangan yang meradang ini
Keluh kesah atau nyanyian pecundang
Malam masih yatim piatu yang melenggang
Namun tak urung madahmu tangkas menyusup
Kau giringkan rentet cinta bermandi tangis
Astaga...!
Terpukau aku pada dusta yang setia
Kuharapkan tangan
Yang bisa menggapai hatiku yang terbengkalai ini
Diambang kangenku
Akulah pangeran atas segala nestapa
Gerimis yang ungu
Perlahan menitik didalam gugusan harapan
Dibawah letak hidungmu
Aku minta tempat sila
Dengan segudang kata cinta
Pabila suatu saat umurku dipacu waktu
Merdekalah dari kungkungan mimpi
Ketika anyelir ditaman masih berkerudung embun
Diambang malamku
Selaksa kemelut bermain tanpa terali
Khayalku berarak
Kutawar buatmu mungkin kau minat menjamahnya
Dibawah letak hidungmu
Aku minta tempat sila
Dengan segudang kata cinta
Pabila suatu saat umurku dipacu waktu
Merdekalah dari kungkungan mimpi
Kicau apa gerangan yang meradang ini
Keluh kesah atau nyanyian pecundang
Malam masih yatim piatu yang melenggang
Namun tak urung madahmu tangkas menyusup
Kau giringkan rentet cinta bermandi tangis
Astaga...!
Terpukau aku pada dusta yang setia
Kuharapkan tangan
Yang bisa menggapai hatiku yang terbengkalai ini
Diambang kangenku
Akulah pangeran atas segala nestapa
Gerimis yang ungu
Perlahan menitik didalam gugusan harapan
Dibawah letak hidungmu
Aku minta tempat sila
Dengan segudang kata cinta
Pabila suatu saat umurku dipacu waktu
Merdekalah dari kungkungan mimpi
Serenade
Aku ingin nyanyikan lagu
Buat orang orang yang tertindas
Hidup di alam bebas
Dengan jiwa yang terpapas
Dengan jiwa yang terpapas
Kenapa harus takut pada matahari ?
Kepalkan tangan dan halau setiap panasnya
Kenapa harus takut pada malam hari ?
Nyalakan api dalam hati usir segala kelamnya
Aku ingin nyanyikan lagu
Bagi kaum kaum yang terbuang
Kehilangan semangat juang
Terlena dalam mimpi panjang
Ditengah hidup yang bimbang
Kenapa harus takut pada matahari ?
Kepalkan tangan dan halau setiap panasnya
Kenapa harus takut pada malam hari ?
Nyalakan api dalam hati usir segala kelamnya
Di lorong lorong lorong jalan
Di kolong kolong kolong jembatan
Di kaki kaki kaki lima
Di bawah menara
Kau masih mendekap derita
Kau masih mendekap derita
Aku ingin nyanyikan lagu
Tanpa kemiskinan dan kemunafikan
Tanpa air mata dan kesengsaraan
Agar dapat melihat surga
Agar dapat melihat surga
Kenapa harus takut pada matahari ?
Kepalkan tangan dan halau setiap panasnya
Kenapa harus takut pada malam hari ?
Nyalakan api dalam hati usir segala kelamnya
Buat orang orang yang tertindas
Hidup di alam bebas
Dengan jiwa yang terpapas
Dengan jiwa yang terpapas
Kenapa harus takut pada matahari ?
Kepalkan tangan dan halau setiap panasnya
Kenapa harus takut pada malam hari ?
Nyalakan api dalam hati usir segala kelamnya
Aku ingin nyanyikan lagu
Bagi kaum kaum yang terbuang
Kehilangan semangat juang
Terlena dalam mimpi panjang
Ditengah hidup yang bimbang
Kenapa harus takut pada matahari ?
Kepalkan tangan dan halau setiap panasnya
Kenapa harus takut pada malam hari ?
Nyalakan api dalam hati usir segala kelamnya
Di lorong lorong lorong jalan
Di kolong kolong kolong jembatan
Di kaki kaki kaki lima
Di bawah menara
Kau masih mendekap derita
Kau masih mendekap derita
Aku ingin nyanyikan lagu
Tanpa kemiskinan dan kemunafikan
Tanpa air mata dan kesengsaraan
Agar dapat melihat surga
Agar dapat melihat surga
Kenapa harus takut pada matahari ?
Kepalkan tangan dan halau setiap panasnya
Kenapa harus takut pada malam hari ?
Nyalakan api dalam hati usir segala kelamnya
Subscribe to:
Posts (Atom)